12 September
Jika aku ingat tanggal itu terasa ingin tertawa sendiri.... bagaimana bisa aq berani bertemu dengan orang asing (yang kini menjadi suamiku) di Mall besar di sebuah kota kecil. Aneh dan lucu... masih terbayang olehku bagaimana wajah kami berdua pada saat bertemu...iya pertemuan yang begitu singkat namun juga sangat berkesan. Sejak pertama bertemu aku sangat mengagumi matanya terlihat dengan jelas bola matanya yang coklat terbingkai dengan kacamata bermerk yang ia kenakan.... ah tampannya kamu suamiku..... :) berkenalan kemudian bertemu denganmu benar-benar menjadi "obat" untukku d tengah kegalauan hidup yang aku rasakan saat itu. Ia menjadi seperti pahlawan dalam kehidupanku. Terbesit dibenakku setelah pertemuan ini ia tidak akan pernah menghubungiku lagi...bukan pesimis tapi ya... aku cukup sadar diri aku... wanita sangat biasa.. tidak terlalu cantik.... tidak putih.. seperti wanita-wanita yang banyak aku lihat lalu lalang d mall. Sampai akhirnya pertemuan tanggal itu menjadi sangat berarti......... hingga akhirnya kami menikah... iya aku dan kamu dalam satu ikatan suci "Pernikahan" dan aku bahagia.
Namun demikian tinggal berjauhan dari suami yang bekerja diluar kota memang bukan lah hal yang mudah... segala sesuatu harus saya kerjakan sendiri. Jika istri-istri yang lain mungkin bsa dengan mudah mendapatkan perhatian dari suami mereka tersayang apabila sedang sakit, atau butuh teman berbicara mungkin mereka bsa dengan mudah mendapatkan perhatian dari suami mereka. Lalu bagaimana dengan saya ??? Banyak yang menanyakan bagaimana bisa hidup berjauhan dengan suami dan hanya bertemu satu atau dua bulan sekali...??? "Itulah kehidupan" jawabku... selama , kita masih bernafas kita selalu dihadapi pada dua pilihan, dan inilah jalan kehidupan yang aku pilih bersama suami saya tercinta... walaupun sangat ingin rasanya memeluknya setiap hari, bertemu dengannya, melihat senyumnya, menjamunya saat pulang ke rumah tapi...... ikhlas itu yang paling utama. Semua mimpi-mimpi itu harus dengan ikhlas tidak aku jalani sekarang.
Seandainya..... seandainya...... seandainya......!!! aku hapus dengan segera kata-kata itu dari benakku, mengapa mengandai-andai apabila sekarang saat ini yang sedang aku jalani aku bisa menjalaninya dengan baik tanpa perlu berandai-andai. Aku terima pilihanku dan pilihan suamiku ... pilihan kami harus terpisah sementara dalam lini waktu yang menurutku tidaklah lama (salah satu caraku menguatkan hati).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar